Beranda Anak Dampak Sering Membentak Anak, Bunda dan Ayah Harus Tau

Dampak Sering Membentak Anak, Bunda dan Ayah Harus Tau

Menjalani peran sebagai orang tua memang tidak mudah, terlebih Ayah dan Bunda yang memiliki anak lebih dari dua orang. Memasuki usia anak yang aktif dan memiliki keinginan yang banyak membuat Ayah dan Bunda stres untuk mengatur dan mendidiknya.

Orang tua yang pekerja juga membawa masalah pekerjaan dari luar membuat banyak tekanan dan membuat orang tua mudah kesal dan marah saat anak bertingkah, bahkan tanpa sadar memberikan suara bernada tinggi saat memarahi anak.

Apa saja akibat anak sering dibentak?

Satu hal yang mungkin tidak orang tua sadari, ada akibat yang harus ditanggung saat anak sering dibentak oleh orangtua. Beberapa hal di bawah ini adalah akibat yang mungkin terjadi pada anak yang sering kali dibentak.

  1. Membuat anak tidak mau mendengarkan orangtua

Jika Bunda berpikir saat Bunda membentak anak menjadi lebih mendengarkan dan patuh terhadap ucapan Bunda, Bunda tentu salah besar. Justru, salah satu akibat yang mungkin terjadi saat anak sering dibentak adalah anak Bunda jadi tidak mau mendengar nasehat orangtua.

Saat Orang tua membentak, sebenarnya sedang mengaktifkan salah satu bagian pada otak anak yang memiliki fungsi pertahanan dan perlawanan. Dengan begitu, alih-alih lebih mendengarkan ucapan Bunda, akibat dari anak yang sering dibentak membuatnya ketakutan, melawan orangtua, atau justru kabur dari Bunda.

Cobalah untuk berdiskusi dengan anak saat anak melakukan kesalahan daripada harus memarahi atau membentaknya dengan keras. Bunda mungkin juga akan melihat hasil yang berbeda pada anak setelah menghentikan kebiasaan membentak anak.

  1. Menjadikan anak merasa tidak berharga

Bunda mungkin pernah merasa bahwa membentak anak membuatnya lebih menghormati Bunda. Padahal, anak yang terlalu sering dibentak merasa dirinya tidak berharga. Hal ini tentu menjadi akibat lain dari anak yang sering dibentak oleh orangtua.

Sebagai seorang manusia, anak tentu merasa ingin disayangi dan dihargai, apalagi dengan orang terdekatnya, termasuk Bunda sebagai orang tua. Maka itu, terlalu sering membentak anak justru lebih banyak memberikan dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak dibanding sebaliknya.

  1. Merupakan salah satu bentuk penindasan terhadap anak

Tahukah Bunda bahwa membentak anak adalah salah satu bentuk penindasan atau bullying? Ya, bullying tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja, tapi bisa terjadi di rumah. Akibat yang mungkin terjadi pada anak yang sering dibentak bisa jadi mirip dengan dampak bullying. 

Jika Bunda tidak ingin anak Bunda memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang buruk, lebih baik Bunda menghentikan kebiasaan membentak saat anak membuat salah.

  1. Merenggangkan hubungan dengan anak

Saat anak terlalu sering dibentak, salah satu akibat yang mungkin terjadi adalah hubungan orangtua dan anak menjadi renggang. Saat dibentak, anak mungkin merasa sedih, malu, dan tidak disayang lagi. Jadi, tak heran jika anak tidak mau terlalu dekat lagi dengan Bunda.

Apalagi, jika Bunda tidak mau mendengar alasan anak terlebih dahulu. Anak juga bisa merasa tidak dimengerti bahkan oleh orang terdekatnya sendiri, dalam kasus ini kedua orangtua. Apabila Bunda tidak ingin perilaku membentak anak ini membuat hubungan Bunda dengan anak menjadi lebih renggang, lebih baik hindari kebiasaan yang satu ini.

  1. Membuat anak tidak mau menghormati orangtua

Anak merasa tidak dihargai dan tidak disayang sering menjadi akibat dari anak yang terlalu sering dibentak oleh orangtua. Pasalnya, membentak anak juga bentuk dari orang tua yang tidak menghargai anak sendiri. Maka itu, akibat yang mungkin terjadi pada anak yang terlalu sering dibentak oleh orangtua adalah anak menjadi tidak bisa menunjukkan rasa hormat kepada orangtua.

  1. Menciptakan perilaku yang sama pada anak di masa depan

Menghardik ternyata bisa memberikan dampak buruk bagi kondisi psikologis anak dalam jangka panjang. Anak yang semasa kecil sering dibentak oleh orang tua lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan depresi akibat trauma masa kecil ini.

Selain itu, menurut sebuah artikel yang dimuat pada Child Development Journal menjelaskan, akibat dari anak yang terlalu sering dibentak orangtua bisa menyebabkan anak melakukan hal yang sama seperti orangtua lakukan saat ia masih kecil. Anak akan tumbuh sebagai orang yang lebih agresif secara fisik maupun verbal.

Pasalnya, saat masih kecil, anak telah terbiasa melihat perilaku kasar baik secara fisik maupun verbal dari orangtua sebagai bentuk penyelesaian masalah. Maka itu, ketika mereka sedang menghadapi masalah, solusi yang terpikirkan adalah perilaku kasar. Hal ini membuat anak, saat dewasa nanti, mungkin tidak akan ragu membentak orang lain.

Jika bentakan Bunda diikuti dengan kata-kata yang menyakitkan atau menghina, anak akan kehilangan kepercayaan diri dan hidup dalam kegelisahan.

Apa yang harus dilakukan orangtua meminimalkan akibat anak sering dibentak?

Jika orang tua kehilangan kesabaran dan kelepasan membentak anak, jangan terbawa emosi. Ayah dan Bunda masih bisa mengikuti langkah-langkah di bawah ini agar anak tidak merasa trauma. Dengan mencoba untuk menahan diri, Bunda mungkin bisa mencegah timbulnya perilaku buruk dari anak akibat terlalu sering dibentak. Hubungan Bunda dengan anak pun akan tetap terjaga kehangatannya.

Tarik napas dalam-dalam

Segera setelah Bunda kelepasan membentak atau menyakiti hati anak, tarik napas panjang paling sedikit tiga kali. Jangan berkata-kata apa pun sampai Bunda sudah melakukan hal ini.

Ketika Bunda sedang dilanda emosi, tubuh Bunda jadi lebih tegang. Tanda-tandanya berupa napas Bunda pendek-pendek, otot-otot menegang. Selain itu, jantung Bunda berdebar dengan hebat. Menarik napas dalam-dalam bisa membantu tubuh lebih rileks sehingga Bunda bisa berpikir lebih jernih.

Minta maaf dan bertanggung jawab

Ajari anak bahwa melakukan kesalahan itu bukan akhir dunia. Selain itu, saat orangtua meminta maaf, hal ini akan memberi contoh dan mengajarkan anak untuk meminta maaf. Jika Bunda telah kelepasan membentak anak, minta maaf pada anak dengan nada yang tenang. Bunda bisa berkata, “Maaf ya, nak. Ayah dan Bunda jadi terbawa emosi tadi dan membentakmu.”

Hal ini mungkin membuat anak bisa memaklumi kesalahan yang Bunda lakukan, sama halnya dengan Bunda yang bisa menahan diri untuk tidak marah pada anak. 

Mulai kembali pembicaraan dengan tenang

Ketika orang tua membentak-bentak, anak tidak akan sepenuhnya memahami isi perkataan Bunda. Jadi setelah meminta maaf, pastikan bahwa emosi Bunda telah mereda dan tawarkan pada anak untuk memulai kembali percakapan Bunda dari awal, tanpa luapan emosi atau bentakan.

Jangan memaksakan pembicaraan saat itu juga

Apabila Bunda tidak berhasil menenangkan diri, jangan memaksakan diri untuk menyelesaikan pembicaraan dengan anak saat itu juga. Ambil jeda sesaat dan tentukan waktu yang Bunda butuhkan agar ketegangan antara orang tua dan anak tidak berlarut-larut.

Ingatkan anak bahwa Bunda mencintainya

Sehabis dibentak, anak akan merasa kecil hati. Agar perasaan tersebut tidak berlarut dan menjadi akibat dari anak terlalu sering dibentak, Bunda perlu memberi tahu bahwa Bunda tidak membenci anak. Penting bagi orang tua untuk mengingatkan anak bahwa kalian mencintai mereka dan kalian hanya sedang merasa lelah dan penuh emosi.

Tips untuk menahan diri membentak anak

Pada kesempatan selanjutnya, jangan sampai orang tua kehilangan kesabaran lagi. Terapkan langkah-langkah berikut untuk menahan diri saat berada di puncak emosi. Hal ini cukup efektif agar anak tidak mengalami gangguan perilaku sebagai akibat terlalu sering dibentak. 

Kenali emosi dan perasaan 

Pahamilah apa yang membuat Bunda mengamuk dan kapan mulai terbawa emosi. Sebagai contoh, setiap pulang kerja jadi lebih sensitif. Sadari hal ini dan jangan dijadikan pembenaran untuk memarahi anak. Perhatikan dan jaga nada suara saat berbicara agar tidak meledak-ledak.

Bicarakan dengan tenang tapi tegas

Untuk memastikan tidak menegur anak secara berlebihan. Pilih posisi berbicara yang nyaman, misalnya sambil duduk bersama, bukan berdiri. Usahakan juga untuk tidak menegur anak di depan orang lain, seperti kakak dan adiknya atau asisten rumah tangga, supaya terhindar dari tekanan untuk mendisiplinkan anak terlalu keras.