Beranda Konsepsi Jenis Pemeriksaan Laboratorium Untuk Pengecekan Infertilitas

Jenis Pemeriksaan Laboratorium Untuk Pengecekan Infertilitas

Infertilitas adalah kegagalan sepasang suami istri untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi selama 1-2 tahun (WHO). Dikatakan infertilitas primer, bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali.

Infertilitas merupakan permasalahan yang sangat kompleks di bidang kesehatan reproduksi. Angka kejadian infertilitas di dunia setiap tahun adalah 1 dari 7 pasangan. Di Indonesia sendiri tahun 2009 terdapat 50 juta pasangan infertil. Menurut penelitian, sekitar 40-50% infertilitas disebabkan oleh faktor istri, 25-40% dari faktor suami, 10% keduanya dan 10% tidak diketahui sebabnya.

Berikut Pemeriksaan Laboratorium Untuk Mengetahui Penyebab Infertil

Pemeriksaan Pada Istri

Pada istri akan dilakukan pemeriksaan antara lain:

  • Deteksi ovulasi(pelepasan telur)

Pada perempuan dengan siklus haid normal 95% mengalami pelepasan telur, hal tersebut dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan kadar hormon progesteron. Dapat juga dilakukan pemeriksaan lendir serviks, LH urin dan suhu basal namun kemampuan deteksinya rendah. Pada perempuan dengan keluhan haid yang tidak teratur perlu dilakukan pemeriksaan hormon prolaktin.

  • Pemeriksaan Tuba Fallopii (saluran telur)

Pemeriksaan pada saluran telur yang menghubungkan indung telur dengan rahim. Dilakukan pemeriksaan dengan histerosalpingografi (HSG) merupakan pemeriksaan radiografi untuk melihat ukuran, bentuk rahim dan ada tidaknya sumbatan pada saluran telur memiliki tingkat keakuratan yang tinggi (sensitifitas 83% dan spesifitas 65%).

  • Pemeriksaan uterus/rahim

Pada wanita dengan perdarahan abnormal, rongga rahim abnormal pada HSG atau riwayat keguguran berulang maka perlu dilakukan evaluasi pada rahim.

Mioma uteri merupakan kelainan rahim yang paling sering pada wanita di atas 35 tahun sekitar 15-20%. Pada kebanyakan kasus mioma ini tidak bergejala. Mioma dapat berlokasi di subserosa(di bagian luar dinding rahim ke rongga panggul), intramural(di antara otot rahim) dan submukosa(di lapisan otot bagian dalam dari dinding rahim). Mioma pada submukosa yang dapat mempengaruhi kesuburan.

Bila dicurigai adanya abnormalitas pada rongga rahim maka akan dilakukan histeroskopi atau sonohisterogram (SHG). Histeroskopi merupakan tindakan medis dengan cara memasukkan suatu tabung yang terdapat kamera di ujungnya ke dalam rongga rahim, bagian dalam rahim divisualisasikan melalui monitor. Histeroskopi dapat digunakan untuk melihat rongga dalam rahim, saluran telur, rongga vagina dan seviks(leher rahim).

Pemeriksaan Pada Suami

Sedangkan pada suami akan dilakukan beberapa pemeriksaan antara lain:

  • Analisa semen

Parameter normal analisa semen menurut WHO: volume 2-5 cc, jumlah sperma > 15 juta/cc, motilitas > 32% gerak aktif dan maju, bentuk >5% bentuk normal. Bila analisa semen abnormal maka akan dilakukan pengambilan sampel ulang 3-4 minggu kemudian. Karena stress seperti demam dapat menyebabkan semen abnormal. Dalam kondisi ini perlu waktu 2-3 bulan untuk berkembang menjadi sperma yang matur.

  • Pemeriksaan urologi

Bila didapatkan kelainan pada analisis semen, suami akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli urologi. Kelainan yang sering ditemukan adalah varikokel. Varikokel adalah pelebaran pembulih darah vena pada skrotum(kantung testis) yang akan meningkatkan suhu testis, sehingga dapat mempengaruhi produksi sperma.Varikokel menyebabkan infertilitas pada ±25% pria.

Setelah Bunda dan Ayah mengetahui hasil analisa dari penyebab kegagalan kehamilan dari pemeriksaan laboratorium, Bunda dan Ayah dapat memilih penanganan dengan inseminasi buatan yang saat ini telah ada sesuai dengan penyebab kegagalan kehamilan.

Bunda dan Ayah dapat mengetahui penanganan tersebut dengan memahami artikel Halaman Bunda yang berjudul Program Inseminasi Buatan Pada Pasangan Infertil.