Beranda Konsepsi Kapan Penggunaan Pelumas Seksual Diperlukan?

Kapan Penggunaan Pelumas Seksual Diperlukan?

Banyaknya jenis pelumas yang terdapat di pasaran membuat sahabat Bunda penasaran untuk mencobanya, terlebih iklan yang disampaikan menggunakan kalimat meningkatkan kualitas dan kenikmatan hubungan intim. 

Bagi pasangan suami istri kualitas hubungan seksual sangatlah penting, karena sangat mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Jika Bunda dan pasangan ingin mencoba menggunakan pelumas pabrikan, sebaiknya ketahui dahulu kapan sebaiknya penggunaan pelumas ini dipergunakan. 

Fungsi Pelumas Vagina

Pelumas vagina umumnya digunakan sebagai pelicin untuk mempermudah penetrasi atau mengurangi efek gesekan saat melakukan hubungan seksual, masturbasi, ataupun saat menggunakan alat bantu seksual. Jika Bunda mengalami vagina kering, pelumas vagina bisa digunakan sebelum hubungan seksual dilakukan.

Pelumas vagina juga digunakan pada beberapa pemeriksaan atau prosedur medis, yang melibatkan tindakan memasukkan alat ke dalam vagina, misalnya USG transvaginal.

Kapan Menggunakan Pelumas Vagina

Bunda dapat menggunakan pelumas saat hubungan intim terasa menyakitkan karena pelumas alami vagina berkurang. Kurangnya pelumas alami vagina dapat menyebabkan nyeri saat terjadinya gesekan. Saat inilah Bunda memerlukan pelumas untuk membantu mengurangi rasa sakit tersebut. 

Selain faktor usia, vagina kering juga bisa disebabkan oleh penurunan hormon estrogen. Penyebab menurunnya hormon estrogen antara lain karena pasca melahirkan dan menyusui, merokok, penyakit imunitas, terapi pada kanker, dan setelah melakukan prosedur pengangkatan ovarium.

Di samping faktor alami, salah satu faktor yang juga kerap memicu vagina kering yaitu kebiasaan membersihkan vagina dengan sabun atau cairan pencuci khusus (vaginal douche). Alih-alih membuat vagina menjadi bersih, hal itu justru dapat memengaruhi keseimbangan kimiawi vagina sehingga timbul peradangan.

Jenis Pelumas Vagina

Produk-produk pelumas vagina yang dijual di pasaran terbuat dari bahan dasar yang berbeda-beda, antara lain:

Air

Sebagian besar produk pelumas terbuat dari bahan dasar air (water-based lubricants). Pelumas jenis ini relatif aman digunakan karena tidak akan merusak lapisan kondom. Di antara pelumas jenis yang lain, pelumas berbahan dasar air lebih populer karena aman digunakan pada kulit, tidak mengotori seprei, dan mudah dibersihkan dengan air setelah digunakan.

Silikon

Pelumas berbahan dasar silikon umumnya tidak mengandung air. Bahan-bahannya pun sangat minim, tak lebih dari empat jenis bahan. Pelumas ini bisa bertahan lebih lama dibanding yang berbahan dasar air, karena tidak dapat diserap kulit, sehingga sensasi di kulit juga akan terasa berbeda.

Minyak

Beberapa produk pelumas vagina berbahan dasar minyak dapat memicu kerusakan, membuat lubang ataupun mengurangi elastisitas dari kondom lateks. Itu sebabnya, pelumas ini tidak disarankan untuk digunakan saat berhubungan seksual dengan menggunakan kondom.

Penggunaan Pelumas Vagina

Pelumas vagina dapat membantu Bunda lebih menikmati hubungan seksual, dengan meminimalkan gesekan dan mencegah luka atau iritasi. Jika Bunda merasa perlu menggunakan pelumas vagina, gunakanlah dengan bijak. Jika perlu, konsultasikan dengan dokter mengenai kondisi vagina yang kering dan penanganan yang tepat.

Pelumas vagina tidak menyebabkan risiko efek samping yang serius. Kasus iritasi vagina akibat pelumas juga bukan merupakan kasus yang umum terjadi. Sebelum menggunakannya, pastikan Bunda selalu membaca label kemasan untuk mengetahui cara penggunaan yang tepat. Jika merasa tidak cocok dengan produk pelumas tertentu, segera ganti dengan merek lain.

Di samping itu, tidak sedikit orang yang menggunakan air liur sebagai pelumas seks alami. Selain tidak memerlukan biaya, menggunakan air liur sebagai pelumas dianggap lebih praktis. Walaupun begitu, hal ini tidak disarankan karena meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit dan bahkan menurunkan peluang untuk hamil.

Pelumas vagina tidak dapat dimanfaatkan sebagai pereda nyeri atau iritasi di daerah vagina, misalnya pada menopause. Konsultasikan dengan dokter untuk mengatasi keluhan ini. Hindari penggunaan bahan-bahan lain yang berisiko menyebabkan iritasi vagina, seperti cuka, yoghurt, lotion, sabun mandi dan lain-lain.