Beranda Anak Kriteria Aman Memilih Botol Bayi

Kriteria Aman Memilih Botol Bayi

ASI perah saat ini sedang marak dicanangkan bagi Bunda yang harus bekerja keluar rumah namun sang buah hati tetap mendapatkan ASI. memberikan ASI perah menggunakan botol susu memang banyak menjadi pilihan oleh sahabat Bunda. Lalu bagaimanakah kriteria aman dalam pemilihan botol susu sang Buah hati.

Saat ini para ahli telah banyak memberikan informasi mengenai pemilihan botol susu yang aman, termasuk ikatan dokter anak Indonesia.

Berikut tips memilih botol ASI yang aman untuk buah hati, diantaranya :

  • Pilihlah botol bayi BPA-free atau bebas BPA untuk menghindari zat tersebut pada bayi Bunda. Botol dari kaca dapat menjadi alternatif, namun waspada saat melakukan sterilisasi. Botol kaca dapat pecah atau retak dalam suhu tinggi, yang mungkin serpihannya masuk ke dalam susu bayi.
  • Ada pula logo penomoran yang perlu diketahui. Botol atau wadah aman yaitu nomor 2 dari bahan high-density polyethylene (HDPE), nomor 4 dari bahan low-density polyethylene (LDPE), dan nomor 5 dari bahan polypropylene (PP). Umumnya logo yang terdapat pada botol susu adalah logo nomor 2.
  • Segera ganti botol bayi yang tampak tergores ataupun berubah warna. Hal itu kemungkinan menyebabkan pelepasan zat kimia lebih banyak.
  • Untuk menghangatkan botol bayi, disarankan untuk menempatkan dalam baskom berisi air panas atau letakkan di bawah air panas yang mengalir. Tidak disarankan untuk memanaskan botol bayi dengan microwave sebab dapat memicu perlepasan zat kimia yang ada di dalamnya.
  • Perhatikan pula sabun pencuci botol bayi. Dianjurkan memilih yang lembut dan aman bila tercampur makanan, hindari deterjen yang terlalu keras.

Apakah Zat BPA ?

BPA adalah zat kimia yang digunakan dalam proses pembuatan botol bayi dari plastik, untuk membuatnya tampak jernih dan tidak mudah pecah saat jatuh. Selain itu, BPA juga digunakan untuk mengeraskan plastik dan mencegah bakteri dari makanan.

Zat kimia BPA kemungkinan dapat masuk ke dalam tubuh dari susu atau cairan lain, yang diberikan melalui botol bayi. Banyaknya BPA yang tercampur tergantung dari jenis botol bayi, suhu saat botol disterilisasi, dan jenis cairan tersebut.

Beberapa penelitian terhadap BPA mengaitkan risiko kesehatan seperti kanker, diabetes, sakit jantung, dan perubahan sistem hormon. Meski demikian, proses BPA dalam tubuh manusia berbeda dengan hewan percobaan, sehingga belum diketahui secara pasti bagaimana risiko terhadap manusia

Yang perlu Bunda diketahui, penggunaan BPA pada kemasan plastik tidak hanya untuk botol bayi saja loh sahabat Bunda. Beberapa perlengkapan dan wadah makanan-minuman plastik juga kemungkinan  mengandung BPA, seperti cangkir minum bayi, kotak makan, produk pembersih, dan mainan.

Jadi sebaiknya Bunda melakukan pemantauan betul terhadap bahan kimia yang digunakan untuk perlengkapan dan mainan sang Buah hati.