Beranda Persalinan Mengenal Hiperlaktasi (Kelebihan Produksi ASI)

Mengenal Hiperlaktasi (Kelebihan Produksi ASI)

Hiperlaktasi adalah saat dimana tubuh Bunda memproduksi ASI lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh si kecil. ASI akan mengalir dengan sangat cepat dan deras sehingga membuat si kecil kewalahan menghisap payudara Bunda.

Hiperlaktasi umumnya ditandai dengan keluarnya ASI dengan sangat deras tanpa adanya rangsangan, baik sengaja dipompa maupun dihisap oleh si kecil. Hiperlaktasi umumnya terjadi karena pada payudara Bunda memiliki alveoli (kelenjar yang memproduksi ASI) di atas 100.000 – 300.000 per payudara.

Pada kasus yang berat hiperlaktasi dapat menyebabkan benjolan pada payudara, hingga mengalami pembengkakan dan peradangan pada payudara (mastitis).

Tanda Gejala Hiperlaktasi Pada Bunda

Saat Bunda mengalami hiperlaktasi maka Bunda akan mengalami tanda gejala sebagai berikut :

  • Bunda mengalami kebocoran ASI di antara waktu menyusui
  • Pakaian selalu basah karena ASI merembes meski tidak lama setelah menyusui atau memompa
  • Terjadi kebocoran (rembesan) dari payudara yang tidak digunakan saat menyusui
  • Bunda merasakan sakit di payudara selama proses perlekatan (menyusui)
  • Pada kasus yang parah, akan mengalami payudara terasa sangat penuh sehingga mengalami plugged duct (penyumbatan saluran ASI) hingga mastitis (peradangan payudara)

Tanda Gejala Yang Dialami Sikecil

Pada umumnya si kecil tidak akan mengalami gejala yang membahayakan pada Bunda yang mengalami hiperlaktasi bahkan tidak mengalami sama sekali. Namun beberapa anak biasanya akan mengalami hal berikut saat Bunda mengalami hiperlaktasi, diantaranya :

  • Perut bayi bergas, hal ini dikarenakan bayi mengkonsumsi ASI terlalu banyak. Jika bayi mengkonsumsi terlalu banyak ASI akan menimbulkan rasa tidak nyaman, seperti Bunda yang makan terlalu kenyang. 
  • Penambahan berat badan yang berlebihan. Hal ini dikarenakan bayi banyak mengkonsumsi ASI.
  • Sering PUP dan Sering pipis. Hal ini dianggap wajar jika saat si kecil berlebihan dalam makan / minum (ASI). 
  • Sering Gumoh. Beberapa kasus bayi yang tidak sanggung menampung jumlah ASI yang banyak akan muntah / gumoh. Sebaiknya Bunda tetap mengatur durasi menyusui jika mengalami hiperlaktasi dan sendawakan bayi agar nyaman. 

Gejala hiperlaktasi merupakan hal yang wajar dialami oleh Bunda pada minggu pertama setelah melahirkan, atau sedikit lebih lambat, yakni sekitar dua atau tiga minggu setelah proses persalinan. Produksi ASI bisa mulai terkendali dengan sendirinya setelah 3 bulan pasca melahirkan, meski tanpa dilakukan perawatan. Menjadi hal yang sangat wajar bila Bunda memiliki terlalu banyak ASI dalam 4 hingga 5 bulan pertama setelah melahirkan. 

Cara Mengatasi Hiperlaktasi

Hiperlaktasi bisa menjadi tantangan tersendiri selama proses menyusui, tapi pada kebanyakan kasus kondisi ini bisa diatasi dengan cukup mudah. Ada banyak cara untuk mengatasi hiperlaktasi, kesemuanya fokus pada pengaturan persediaan ASI Bunda:

  • Letakkan lap dingin di payudara untuk membantu mengatasi ASI berlimpah, karena air hangat justru mendorong keluarnya ASI.
  • Dangle feeding bisa membantu mengeringkan payudara dengan lebih efisien sekaligus mencegah masalah seperti saluran ASI tersumbat dan mastitis.
  • Bila Bunda menyusui dan memompa ASI, sebaiknya Bunda tidak memompa setelah anak selesai menyusui, karena ini justru bisa makin meningkatkan produksi ASI. Bila payudara bengkak dan terasa tidak nyaman, Bunda bisa memerah dengan tangan hingga merasa sedikit lebih nyaman.
  • Bunda bisa menampung ASI yang bocor dari payudara lain selama menyusui anak dengan breast sheels. Ini bisa untuk menambahkan stok ASIP.
  • Bunda bisa juga donasikan ASI ke ibu lain yang membutuhkan.

Bila Bunda terus mengalami ASI berlimpah setelah mencoba metode di atas, hubungi konselor laktasi yang punya pengalaman mengatasi masalah yang sama. Akan ada beberapa saran yang diberikan konsultan laktasi untuk Bunda lakukan. Misalnya, sebelum menyusui, pompalah ASI Bunda untuk melambatkan alirannya. Bunda bisa menyimpan ASI yang dipompa untuk digunakan nanti. 

Metode Pengatasan Lain

Selain cara diatas, Bunda juga dapat melakukan hal berikut :

  • Susui bayi  sebelum ia benar-benar lapar. Susui bayi Bunda sebelum ia benar-benar lapar (atau segera setelah ia bangun tidur). Pada kondisi ini bayi Bunda akan menghisap payudara lebih lambat. Hisapan yang lebih lembut tidak akan terlalu menstimulasi payudara dan tidak membuat aliran ASI sangat deras.
  • Daun kubis bisa membantu menurunkan persediaan ASI. Meski hanya ada sedikit penelitian yang mendukung hal ini, banyak wanita merasa penggunaan daun kubis yang konsisten bisa efektif menurunkan persediaan ASI. Cuci beberapa daun kubis lalu buang bagian yang keras, kemudian letakkan di dalam bra hingga layu. Hati-hati karena suhu dingin bisa berlebihan menurunkan persediaan ASI. Yang direkomendasikan, gunakan daun kubis selama 20 menit, tiga kali sehari, dan hentikan setelah ASI mulai menurun.
  • Posisi menyusui tertentu juga bisa membantu bayi Bunda mengatasi aliran ASI yang deras dengan lebih baik. Coba posisikan bayi menghadap Bunda. Bunda perlu melenturkan kepalanya sedikit ke belakang, agar gravitasi bisa melambatkan aliran ASI.
  • Hentikan sesi menyusui saat bayi terlihat meneguk ASI terlalu cepat atau berusaha mengatasi aliran ASI yang deras. Sendawakan si kecil terlebih dahulu lalu biarkan ia kembali menyusu. Beberapa Bunda ada yang mencoba menggunakan nipple shield untuk membantu bayi mengatasi aliran ASI. 
  • Biarkan bayi menentukan durasi menyusu. Biarkan bayi berhenti menyusu di satu payudara saja selama satu sesi menyusu. Ini dapat memastikan anak cukup mendapatkan hindmilk pada payudara tersebut. Bunda bisa memerah sedikit ASI juga agar payudara tidak terlalu bengkak, tapi jangan berlebihan karena akan makin memperparah hiperlaktasi.
  • Waspadai masalah kesehatan. Pastikan bayi tidak mengalami masalah kesehatan yang menyebabkan ia tidak mampu mengatasi aliran ASI. Bayi dengan refluks, tongue tie, bibir sumbing, masalah pernapasan, masalah integrasi sensori, dan sebagainya bisa memicu masalah menyusui tanpa peduli berapa banyak ASI yang Bunda produksi. Jadi, sebelum melakukan apapun untuk menurunkan jumlah ASI yang Bunda produksi, sebaiknya periksakan bayi ke dokter.
  • Memompa ASI untuk membantu mengurangi produksi ASI, mulailah dengan memompa kedua payudara hingga kosong. Lalu susui bayi hanya pada satu payudara selama 2 atau 3 kali sesi menyusui berturut-turut. Susui bayi sesering ia menginginkannya, tapi hanya gunakan payudara yang sama. Anda bisa memompa payudara yang satunya (tapi hanya sedikit) untuk mengurangi tekanan aliran ASI. Teknik ini biasanya berhasil dalam waktu 24 hingga 48 jam.
  • Lakukan block feeding. Di metode ini, Bunda akan menyusui hanya di satu sisi untuk jangka waktu tertentu. Mulailah dengan block feeding selama 3 jam. Kapanpun bayi lapar selama waktu ini, susui di payudara yang sama. Lalu ganti ke payudara lain di 3 jam selanjutnya. Bantu perah ASI di payudara sisi lainnya (yang tidak disusui) agar Bunda tetap nyaman.
  • Coba full drainage block feeding (FDBF). Metode ini berarti sebisa mungkin mengosongkan payudara. Jadi sekitar satu jam sebelum bayi menyusu, pompa kedua payudara hingga tidak lagi melihat ASI menetes. Lalu lakukan block feeding. Daripada memerah untuk merasa nyaman, tunggu hingga payudara lain jadi sangat penuh, dan ganti ke sisi itu untuk block feeding selanjutnya. Untuk mengurangi risiko saluran ASI tersumbat, Bunda bisa kembali memompa lebih dari satu kali dalam sehari. Setelah melakukan ini selama beberapa hari, Bunda kemungkinan tidak lagi perlu memompa tapi masih perlu melakukan block feeding.

Bila tidak ada cara yang berhasil, temui dokter atau konsultan laktasi. Di kasus yang sama, pengobatan bisa dilakukan untuk membantu mengurangi produksi ASI yang berlebih. Harus diingat Bunda, ketidakmampuan si kecil untuk menerima aliran ASI yang deras bukan berarti penolakan terhadap diri Bunda.

Satu hal yang menggembirakan adalah hiperlaktasi merupakan tanda kalau tubuh memproduksi banyak makanan yang bayi butuhkan. Sayangnya, bayi yang ibunya memproduksi terlalu banyak ASI kadang mendapat lebih banyak foremilk dibanding hindmilk. Kondisi ini bisa mengakibatkan perut banyak mengandung gas dan menimbulkan gejala kolik.

Beberapa bayi lain tidak bisa mendapat ASI yang cukup karena mereka tidak bisa mengatasi aliran ASI yang cukup deras. Ini bisa menimbulkan masalah jika terus berlanjut dalam waktu yang cukup lama sehingga mempengaruhi asupan gizinya.

Jika Bunda masih terus memproduksi ASI yang terlalu banyak setelah mengikuti saran  yang disebutkan tadi, coba hubungi ahli laktasi kembali. Bunda juga perlu mengawasi pertumbuhan si kecil, jadi beritahukan juga hal ini pada dokter ya Bunda.