Beranda Keluarga Mengenali Istilah Terkait Virus Corona (COVID-19)

Mengenali Istilah Terkait Virus Corona (COVID-19)

Mewabahnya virus corona membuat banyak pemberitaan mengenai virus corona dan menggunakan istilah-istilah yang mungkin sahabat Bunda baru saja dengar. Untuk memahami istilah tersebut dan mencegah kekeliruan yuk kita lihat satu-satu ya Bunda. 

Istilah-istilah dalam wabah virus corona 

Mewabahnya virus corona membuat bermunculan istilah asing yang belum dipahami, untuk itu Bunda harus tau dulu makna istilah tersebut untuk menghindari kesalahan dalam penerapan nya, diantaranya :

  1. Social distancing

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), arti istilah ‘social distancing’ atau ‘pembatasan sosial’ adalah menghindari tempat umum, menjauhi keramaian, dan menjaga jarak optimal 2 meter dari orang lain. Dengan adanya jarak, penyebaran penyakit ini diharapkan dapat berkurang.

  1. Isolasi dan karantina

Kedua istilah terkait virus Corona ini merujuk pada tindakan untuk mencegah penularan virus Corona dari orang yang sudah terpapar virus ini ke orang lain yang belum.

Perbedaannya, isolasi memisahkan orang yang sudah sakit dengan orang yang tidak sakit untuk mencegah penyebaran virus Corona, sedangkan karantina memisahkan dan membatasi kegiatan orang yang sudah terpapar virus Corona namun belum menunjukkan gejala.

Berbagai pakar menganjurkan untuk melakukan karantina di rumah atau isolasi mandiri selama setidaknya 14 hari. Selama karantina, Anda dianjurkan untuk tinggal di rumah sambil menjalani pola hidup bersih dan sehat, tidak bertemu orang lain, dan menjaga jarak setidaknya 2 meter dari orang-orang yang tinggal serumah.

  1. Lockdown

Istilah ‘lockdown’ berarti karantina wilayah, yaitu pembatasan pergerakan penduduk dalam suatu wilayah, termasuk menutup akses masuk dan keluar wilayah. Penutupan jalur keluar masuk serta pembatasan pergerakan penduduk ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi dan penyebaran penyakit COVID-19.

  1. Flattening the curve

‘Flattening the curve’ atau ‘pelandaian kurva’ merupakan istilah di bidang epidemiologi untuk upaya memperlambat penyebaran penyakit menular yang dalam hal ini adalah COVID-19, sehingga fasilitas kesehatan memiliki sumber daya yang memadai bagi para penderita. Pelandaian kurva ini dapat dilakukan dengan social distancing, karantina, dan isolasi.

Kurva menggambarkan prediksi jumlah orang yang terinfeksi virus Corona dalam rentang waktu tertentu. Jumlah penderita yang meningkat drastis dalam periode yang sangat singkat, misalnya hanya dalam waktu beberapa hari, digambarkan sebagai kurva tinggi yang sempit.

Jumlah penderita yang membludak membuat penanganan tidak bisa dilakukan secara optimal. Hal ini karena jumlah penderita melampaui kemampuan dan kapasitas fasilitas kesehatan, misalnya jumlah tempat tidur dan alat yang tersedia di rumah sakit tidak cukup untuk menangani semua pasien.

Kondisi tersebut menyebabkan tingkat kematian menjadi sangat tinggi, tidak hanya pada pasien COVID-19, namun juga pada pasien penyakit lain yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Meskipun jumlah penderitanya sama, namun jika laju pertambahannya lebih lambat (digambarkan oleh kurva yang lebih panjang dan landai), fasilitas kesehatan memiliki kesempatan untuk menangani penderita dengan sarana dan prasarana yang memadai.

  1. Pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP)

PDP dan ODP merupakan definisi yang digunakan untuk mengelompokkan individu berdasarkan:

Gejala demam dan/atau gangguan pernapasan

Riwayat perjalanan ke daerah pandemi infeksi virus Corona atau tinggal di daerah tersebut selama 14 hari terakhir sebelum gejala timbul

Riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi atau diduga terinfeksi COVID-19 dalam 14 hari terakhir sebelum gejala timbul

Secara umum, ODP dan PDP bisa dibedakan dari gejala yang dialami. Pada ODP, gejala yang muncul hanya salah satu antara demam atau gangguan pernapasan, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Sedangkan pada PDP, sudah ada gejala demam maupun gangguan pernapasan.

Terhadap PDP, dilakukan rawat inap terisolasi di rumah sakit, pemeriksaan laboratorium, dan pemantauan pada orang lain yang memiliki kontak erat dengan PDP tersebut. Sementara ODP harus menjalani isolasi di rumah dan kondisinya akan dipantau setiap hari selama 2 minggu, menggunakan formulir khusus.

Jika kondisi ODP mengalami perburukan dan sudah memenuhi kriteria PDP atau hasil laboratoriumnya positif terinfeksi virus Corona, maka ODP tersebut harus dibawa ke rumah sakit.

  1. Suspek, Positif COVID-19, Negatif COVID-19
  • Suspek merupakan pasien dalam pengawasan (PDP) yang memiliki riwayat kontak dengan pasien positif COVID-19
  • Positif COVID-19 merupakan pasien yang terbukti secara medis melalui uji laboratorium dan dinyatakan positif virus SARS-CoV-2.
  • Negatif COVID-19 merupakan pasien yang dinyatakan negatif dari hasil uji laboratorium. 
  1. WFH 

Istilah WFH sering sekali muncul di beranda sosial media, WFH merupakan singkatan dari Work From Home, yang memiliki arti bekerja dari rumah. 

Beberapa daerah seperti Jabodetabek menginstruksikan untuk beberapa tenaga kerja untuk melakukan pekerjaannya di rumah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kerumunan, dan membatasi penyebaran virus corona. 

  1. Endemi, Pandemi, Epidemi
  • Endemi merupakan suatu hal (seperti penyakit) yang ada di suatu wilayah/ negara/ area/ lingkungan tertentu. 
  • Pandemi merupakan wabah yang berjangkit serempak dimana-mana, meliputi daerah geografi yang sangat luas.
  • Epidemi atau wabah merupakan penyebaran penyakit dengan cepat dan menimbulkan banyak korban. 
  1. Herd immunity

Secara harfiah, istilah ‘herd immunity’ berarti kekebalan kelompok. Herd immunity terhadap suatu penyakit bisa dicapai dengan pemberian vaksin secara meluas atau bila sudah terbentuk kekebalan alami pada sebagian besar orang dalam suatu kelompok setelah mereka terpapar dan sembuh dari penyakit tersebut.

Di tengah pandemi COVID-19, sebagian ahli percaya bahwa penularan virus Corona akan menurun atau bahkan berhenti sama sekali bila sudah ada banyak orang yang sembuh dan menjadi kebal terhadap infeksi ini.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada vaksin untuk COVID-19 dan untuk menunggu hingga tercapai herd immunity secara alami pun sangat berisiko karena penyakit ini dapat berakibat fatal.

Tetap jaga kesehatan dan terapkan anjuran pemerintah ya sahabat Bunda untuk saling membantu mengurangi korban virus Corona, dan menghilangkan wabah tersebut.