Beranda Persalinan Metode Alternatif Menyusui Jika ASI Bunda Kurang 

Metode Alternatif Menyusui Jika ASI Bunda Kurang 

Ketika ASI tidak bisa mencukupi kebutuhan si kecil karena berbagai alasan, mau tidak mau harus mencari cara agar kebutuhan ASI bayi tetap terpenuhi. Suplementasi, sering dijadikan solusi sebagai metode alternatif menyusui agar gizi si kecil tetap terpenuhi. Lantas, apa itu suplementasi? Dan apa yang bisa dilakukan ketika mengalami ASI kurang untuk si kecil? 

Apa itu suplementasi?

Suplementasi adalah proses pemberian asupan tambahan kepada bayi baik sebagai pendamping ASI ataupun sebagai pengganti ASI jika bayi memiliki masalah ASI kurang. Suplementasi biasanya bisa berupa ASI Bunda sendiri, susu formula atau ASI donor yang sudah diproses terlebih dahulu. Susu sapi tidak bisa dijadikan suplementasi untuk balita yang berumur di bawah satu tahun. Namun, jika si anak sudah berumur satu tahun, maka ia bisa mendapatkan suplementasi susu sapi.

Mengapa bayi perlu diberikan suplementasi?

Idealnya, seorang bayi harus mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Namun, ada beberapa kondisi yang menyebabkan seorang bayi harus mendapatkan suplementasi.  Seperti yang dilansir Very Well, berikut beberapa alasan mengapa suplementasi diperlukan oleh si kecil :

  • Mulut bayi tidak bisa melekat ke payudara.
  • Bayi tidak bertambah berat badannya.
  • Memiliki masalah pada langit-langit mulut, bibir sumbing, atau mengalami ankyloglossia (tongue tie).
  • Bayi prematur.
  • Bunda telah memutuskan untuk menyusui anak angkat.
  • Persediaan ASI rendah atau ASI kurang.
  • Menyusui setelah operasi payudara.
  • Puting sakit.
  • Mencoba menyusui lagi setelah beberapa waktu berhenti menyusui.

Apa saja metode alternatif menyusui yang bisa dicoba saat suplementasi?

  1. Menyusui menggunakan bantuan tabung dan selang (nursing suplementer) 

Nursing suplementer adalah metode alternatif menyusui menggunakan alat yang bisa memberikan suplementasi kepada bayi saat mulutnya melekat ke payudara dan menyusui. Alat yang digunakan dalam metode ini adalah wadah berisi ASI, ASI donor, dan susu formula, tergantung pilihan Bunda.

Wadah yang berisi suplementasi ini akan terhubung ke tabung dan selang yang menempel di ujung puting payudara Bunda. Tabung dan selang ini berfungsi seperti sedotan bagi bayi, si kecil akan menyedot ASI dari payudara bersamaan dengan suplementasi susu tambahan yang diberikan ke dalam mulutnya melalui tabung dan selang.

Cara ini membantu Bunda memastikan bahwa si kecil mendapatkan cukup nutrisi sambil terus merangsang payudara untuk “membangun” persediaan ASI Bunda. Cara ini juga membantu menyelesaikan masalah ASI kurang.

  1. Menyusui menggunakan jari (finger feeding)

Jika bayi Bunda mengalami masalah pelekatan di payudara, atau jika puting Bunda sangat sakit dan perlu waktu istirahat dari aktivitas menyusui, Bunda bisa mencoba metode alternatif menyusui yang disebut finger feeding atau memberikan susu menggunakan jari Bunda.

Metode ini menggunakan alat seperti selang dan tabung, jari Bunda akan berfungsi seperti puting payudara. Caranya Bunda akan mengisi wadah atau tabung dengan suplementasi, lalu dihubungkan melalui selang, selang ini akan dipasang di sela-sela jari Bunda. Lalu, letakkan jari Bunda di mulut bayi. Saat si kecil mengisap jari Bunda, suplementasi ini akan berhasil masuk ke dalam mulutnya. Cara ini membuat si kecil tidak merasakan masalah ASI kurang.

  1. Menyusui menggunakan cangkir (cup feeding)

Bunda bisa menggunakan cangkir untuk memberikan suplementasi kepada bayi. Jangan dituangkan ke dalam mulutnya secara langsung, tapi tempelkan mulut cangkir ke mulut bayi Bunda secara perlahan, berikan jeda saat si kecil menelan suplementasi dengan tempelan mulut cangkir berikutnya. Ulangi, hingga si kecil benar-benar merasa puas.

Jika Bunda terlalu takut si kecil bisa tersedak karena menggunakan cangkir. Bunda bisa menggunakan sendok, dan pipet untuk menyusui. Susu bisa Bunda letakkan di alat-alat ini, lalu masukkan secara perlahan ke dalam mulut bayi dalam jumlah yang sangat kecil. Berikan jeda waktu antara bayi menelan dengan pemberian susu berikutnya, sampai si kecil merasa puas.

  1. Menyusui menggunakan botol (bottle feeding)

Menyusui menggunakan botol atau yang banyak orang Indonesia sebut dengan dot bayi adalah cara yang paling umum dan konvensional untuk memberikan suplementasi karena masalah ASI kurang. Ujung botol atau dot yang sudah dibuat mirip dengan puting susu sudah banyak tersedia dan mudah digunakan.

Bunda bisa memilih beberapa dot, dan lihat mana yang paling disukai oleh si kecil. Dot yang memiliki lubang kecil yang akan memberikan susu lebih lambat adalah botol susu yang paling bagus. Namun, beberapa bayi menyukai dot dengan lubang yang sedikit besar karena membuatnya mudah meminum susu. Jika Bunda kesulitan menentukan botol mana yang tepat untuk bayi Bunda, bicarakan kepada dokter untuk mendapatkan rekomendasi.

Lantas, metode alternatif menyusui mana yang paling baik saat mengalami masalah ASI kurang?

Jika bayi Bunda masih bisa melekat ke payudara, menyusui menggunakan alat atau nursing supplementer adalah pilihan metode alternatif menyusui yang paling baik dibandingkan yang lain. Namun, jika bayi tidak bisa melekat ke payudara, menyusui menggunakan jari  atau finger feeding adalah pilihan terbaik.

Menyusui menggunakan botol mungkin adalah yang paling mudah, namun metode ini bisa mengurangi keinginan bayi untuk menyusui secara langsung lewat puting payudara. Meskipun beberapa bayi tidak masalah saat harus menyusu melalui puting payudara atau botol secara bergantian, namun beberapa bayi terkadang menolak menyusu lewat puting payudara saat sudah “diperkenalkan” dengan botol atau dot.

Boleh pilih alternatif menyusui, tetapi…

Jika Bunda memilih menyusui menggunakan cangkir, sendok, dan, pipet, lakukan dengan hati-hati. Metode alternatif menyusui ini mungkin tidak senyaman menggunakan alat tabung dan selang atau botol. Hal ini bisa meningkatkan risiko tersedak pada bayi yang bisa membahayakan paru-paru si kecil.

Jika dokter Bunda merekomendasikan cara ini, pastikan Bunda tahu teknik yang benar saat melakukannya, sehingga Bunda merasa nyaman dan tidak takut saat melakukannya.