Beranda Kehamilan Penyebab Janin Terlilit Tali Pusar

Penyebab Janin Terlilit Tali Pusar

Bayi terlilit tali pusar merupakan salah satu kondisi yang sering terjadi selama kehamilan. Banyak yang bertanya-tanya apa penyebab bayi terlilit tali pusar, dan juga merasa khawatir kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi saat persalinan nanti.

Penelitian menunjukkan, umumnya bayi terlilit tali pusar tidak selalu membahayakan, dan tidak mencekik bayi, karena tali pusar yang sehat dilindungi oleh jelly yang disebut Wharton’s jelly. Jelly ini berfungsi menjaga tali pusar tetap elastis, meski bayi aktif bergerak dalam kandungan. Hampir separuh kasus lilitan tali pusar umumnya cukup longgar, sehingga dengan pergerakan atau perpindahan posisi bayi dalam rahim dapat melepaskannya dari lilitan sebelum dilahirkan.

Penyebab Lilitan Tali Pusat Pada Bayi

Tali Pusar Terlalu Panjang

Ketika tali pusar yang dimiliki bayi terlalu panjang, maka beberapa gerakan bayi dalam kandungan bisa menyebabkan masalah ini. Gerakan bayi yang kuat dalam kandungan bisa meningkatkan ketegangan tali pusar. Akibatnya tali pusar yang meregang bisa membuat bayi terlilit. Umumnya hal ini bisa menyebabkan lilitan pada bagian leher  bayi. Namun tali pusar yang panjang juga bisa menguntungkan karena bisa melindungi aliran darah dari ibu ke bayi. Tapi jika berlebihan juga bisa menyebabkan resiko kelahiran prematur.

Gerakan Bayi yang Kuat

Setiap bayi memiliki ukuran tali pusat yang berbeda-beda. Tali pusar bekerja untuk melindungi janin agar selalu mendapatkan nutrisi dari ibu. Tali pusat berisi sebuah zat gelatin atau jeli yang berfungsi untuk melindungi pembuluh darah dalam tali pusar. Gelatin juga berfungsi untuk melindungi pembuluh darah tali pusar agar tidak terkena tekanan yang berlebihan. Ketika gerakan bayi normal maka tali pusar akan normal namun jika gerakan berlebihan maka tali pusar juga bisa menjadi panjang. Jadi dorongan gerakan bayi yang kuat dalam kandungan akan mendorong bayi terkena lilitan tali pusar.

Bayi Turun ke Ruang Panggul

Pada akhir kehamilan maka biasanya bayi sudah mulai turun ke ruang panggul. Ketika masih dalam puncak rahim maka bayi memiliki tali pusar yang mengikuti gerakan bayi. Jika bayi masuk ruang panggul maka semua paket plasenta termasuk tali pusar juga akan dibawa turun oleh bayi. Posisi saat itu biasanya air ketuban masih penuh sehingga mendorong tali pusar melilit bayi, terutama pada bagian leher. Jika hal ini terjadi maka biasanya tali pusar akan terbawa bayi sesuai dengan gerakan putaran dari ujung fundus hingga ke ruang panggul. Umumnya kondisi ini memang menjadi tanda-tanda akan melahirkan dalam waktu dekat.

Kehamilan Kembar

Kehamilan kembar juga bisa menyebabkan resiko bayi terlilit tali pusar. Lilitan tali pusar bisa terjadi pada bayi itu sendiri atau acak dengan kembarannya. Kondisi ini biasanya sudah terdeteksi pada pertengahan kehamilan. Biasanya kehamilan kembar juga akan lahir pada waktu yang lebih awal sehingga posisi bayi turun ke ruang panggul juga lebih cepat. Kehamilan kembar dengan kantung ketuban satu memiliki resiko bayi terkena lilitan tali pusar yang lebih besar.

Ukuran Bayi Terlalu Besar

Ukuran bayi yang terlalu besar seperti pada ibu hamil yang menderita diabetes gestasional juga memiliki resiko tinggi bayi terlilit tali pusar.

Bayi dengan ukuran yang besar sebenarnya dipengaruhi dari kadar gula yang tinggi semasa Bunda sedang hamil. Kadar gula dalam Bunda juga bisa melewati plasenta dan kemudian diolah oleh pankreas janin untuk menghasilkan insulin. Hal inilah yang menyebabkan bayi berukuran besar. Akibatnya gerakan dan berbagai dorongan posisi bayi inilah yang membuat bayi terlilit tali pusar.

Ibu Hamil Kurang Nutrisi

Bunda yang mengalami kekurangan nutrisi juga bisa menyebabkan bayi terlilit tali pusat. Kekurangan nutrisi menyebabkan tali pusar kekurangan zat gelatin (jelly Wharton). Akibatnya perlindungan terhadap pembuluh darah dalam tali pusar juga akan menurun. Gelatin ini berfungsi untuk membuat tali pusar menjadi lentur dan bisa bergerak bebas dalam genangan air ketuban. Jika kekurangan nutrisi maka ketika bayi bergerak, kemungkinan lilitan tidak bisa kembali seperti semula. Jadi usahakan semua Bunda yang sedang hamil mengikuti pedoman gizi ibu hamil berdasarkan trimester kehamilan.

Kondisi Kehamilan Polihidramnion

Bunda yang sedang hamil yang mengalami kondisi polihidramnion juga bisa menjadi penyebab bayi terlilit tali pusar. Hidramnion adalah kondisi kehamilan ketika cairan ketuban yang dihasilkan selama kehamilan sangat besar. Ini membuat bayi bisa bergerak kemana saja. Gerakan yang terlalu lincah akan meningkatkan bayi terlilit tali pusar. Resiko kehamilan dengan masalah air ketuban berlebihan juga bisa menyebabkan masalah lain seperti kelahiran prematur, pecah air ketuban sebelum kelahiran, dan plasenta yang terpisah dari rahim.

Komplikasi Selama Persalinan Normal

Komplikasi selama persalinan normal juga bisa menyebabkan bayi terlilit tali pusar. Kelahiran sungsang bisa membuat bayi menerima resiko terlilit tali pusat yang lebih besar. Karena itu kelahiran sungsang biasanya akan membutuhkan bidan atau dokter yang sudah ahli. Jika bayi terlilit tali pusar maka bisa menyebabkan resiko kematian bayi saat persalinan juga semakin tinggi.

Tanda-Tanda Bayi yang Terlilit Tali Pusat

  • Setelah bayi masuk ke usia 37 minggu maka aktifitas janin terlihat sangat menurun. Untuk mengetahui hal ini biasanya dokter akan melakukan deteksi dengan USG. Pemeriksaan rutin sangat diperlukan untuk mengetahui resiko bayi apakah dalam kondisi berbahaya atau tidak.
  • Setelah janin masuk ke usia 35 minggu, maka janin tidak bisa masuk ke rongga panggul. Biasanya pada usia ini maka bayi sudah bersiap untuk mencari jalan lahir sehingga kepala masuk ke rongga panggul.
  • Posisi bayi pada usia lebih dari 34 minggu akan menjadi sungsang. Seharusnya posisi bayi sudah mulai turun ke rongga panggul, namun karena terlilit tali pusar maka tidak bisa memutar. Usaha untuk memutar bayi juga tidak bisa banyak membantu.
  • Aktifitas bayi menjadi sangat rendah dan hal ini bisa dideteksi dengan detak jantung bayi yang semakin menurun. Aktifitas ini akan akan menurun terus selama ibu hamil akan melahirkan dan sudah mulai kontraksi.