Beranda Keluarga Benarlah Anak Dari Keluarga Harmonis Lebih Lemah Secara Emosional?

Benarlah Anak Dari Keluarga Harmonis Lebih Lemah Secara Emosional?

Apakah Bunda tahu, jika pertumbuhan seorang anak didalam keluarga yang harmonis dikatakan memiliki kondisi emosional yang lebih terkontrol. Hal tersebut disebabkan oleh lingkungan keluarga yang ramah bagi anak, lingkungan keluarga yang harmonis dan baik tersebut, dapat membentuk dan mengatur emosi serta tekanan. Sehingga mereka dapat menjalani kehidupan sosial yang berkualitas.

Berikut hubungan antara keluarga yang harmonis dengan perkembangan emosi anak.

Tidak perlu diragukan lagi, jika anak-anak merupakan peniru ulung. Pasalnya, mereka akan belajar dari apa yang mereka lihat di sekitarnya. Melalui hal tersebut, pembentukan emosi serta kepribadian mereka akan berpengaruh terhadap perkembangan emosinya dimasa mendatang.

Berbagai macam bentuk interaksi dan pola komunikasi yang dilakukan didalam keluarga, menjadi “bekal”nya, untuk memahami hubungan sosial. Sehingga tiap anggota keluarga memiliki peran serta tugas penting dalam membantu perkembangan emosional anak. 

Salah satu faktor kunci, ketika anak belajar bahwa interaksi merupakan hal yang penting bagi setiap individu, dapat dilihat melalui bagaimana interaksi didalam keluarga. Lingkungan keluarga yang harmonis menjadi penentu dalam pembentukan sifat dan fungsi interpersonal seseorang, tidak hanya dalam lingkungan keluarga yang harmonis, lingkungan dimana ia tinggal, serta hubungan pertemanan yang dimiliki menjadi salah satu faktor penting lainya

Perkembangan emosi seorang anak yang tumbuh didalam keluarga yang harmonis akan membuat ia lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitarnya, dan mereka terbiasa untuk menunjukan rasa saling menghargai satu sama lain. 

Lalu bagaimana perkembangan emosi seorang anak yang tumbuh didalam keluarga yang kurang harmonis?

Terbiasanya seorang anak melihat perilaku yang buruk, maka pembelajaran yang akan mereka dapat hanya hal-hal yang buruk. Salah satunya saling mencaci-maki atau berbicara dengan intonasi yang keras. Hal ini dapat menempatkan mereka pada kondisi yang mudah tertekan, memiliki emosi yang tidak stabil, serta membangun perilaku yang kurang baik.