Beranda Kehamilan Menderita Lupus Saat hamil, Bisakah Melahirkan Normal? 

Menderita Lupus Saat hamil, Bisakah Melahirkan Normal? 

Pada sebagian wanita yang memiliki penyakit lupus bukan berarti mereka tidak bisa memiliki anak. Banyak diluar sana, kasus ibu hamil dengan lupus dapat melakukan persalinan. Kunci keberhasilan bagi Bunda yang sedang mengandung dan ingin melahirkan dengan sehat ialah mengendalikan penyakit lupus. 

Banyak pertanyaan tentang apakah ibu hamil dengan penyakit lupus dapat melahirkan secara normal? Jawabnya adalah bisa, akan tetapi sebagian besar dan yang sering menjadi pilihan adalah melahirkan secara caesar. Bagi Bunda dan calon Bunda yang sedang merencanakan kehamilan, direkomendasikan untuk berkonsultasi pada dokter 3 hingga 6 bulan sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mengontrol penyakit lupus, serta mencegah permasalahan sehat lainya.

Kehamilan Sehat untuk Ibu dengan Lupus

Selama kehamilan bumil perlu melakukan tes darah, tes urin untuk mengetahui kondisi antibodi, sehingga dapat membantu melacak tingkat keparahan lupus. Tes-tes ini juga dapat memantau kondisi hati dan ginjal Bunda. 

Selama masa kehamilan, Bunda perlu melakukan beberapa tes, baik tes darah dan urin. Tujuan dari tes yang dilakukan adalah untuk membantu melacak tingkat keparahan lupus serta memantau kondisi hati dan ginjal Bunda. Ada beberapa tambahan yang dapat Bunda lakukan untuk memastikan kehamilan tetap sehat, yaitu:

  • Melakukan pertemuan dengan dokter secara teratur. Pertemuan dilakukan setidaknya setiap trimester. Tetapi, bagi ibu hamil yang mungkin perlu lebih sering dikunjungi jika memiliki kekambuhan.
  • Mengikuti instruksi tentang diet dan olahraga yang direkomendasikan dokter.
  • Meminum obat sesuai petunjuk.
  • menghindari alkohol, tembakau, dan obat-obatan yang tidak dianjurkan oleh dokter.

Keguguran menjadi momok untuk ibu hamil dengan lupus. Pada umumnya hal ini terjadi ketika Bunda memiliki antibodi antifosfolipid pada tubuh tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya pembekuan darah abnormal. Resiko lainya yang kerap dialami adalah penyakit ginjal akibat lupus.

Lupus neonatal dapat mempengaruhi kesehatan Bunda dan bayi. Lupus neonatal dapat menyebabkan penyumbatan jantung bawaan, dimana jantung akan berdetak lebih lambat dari biasanya.

Risiko Bumil dengan Lupus 

Bagi penderita lupus, penyakit yang mungkin memiliki resiko tinggi dialami adalah preeklamsia, yaitu terjadinya peningkatan tekanan darah setelah 20 minggu pertama, sindrom HELLP (Hemolisis, Enzim Hati Tinggi, Trombosit Rendah), hipertensi, insufisiensi ginjal, infeksi saluran kemih dan diabetes.

Penggunaan steroid selama masa kehamilan, memungkinkan terjadinya diabetes dan hipertensi. Sedangkan jika Bunda mengalami sakit kepala, sakit perut, penglihatan kabur dan penurunan frekuensi buang air kecil, bisa jadi itu merupakan gejala peningkatan tekanan darah.

Seperlima kehamilan dengan lupus memiliki potensi keguguran dan seperlima diantaranya mengalami persalinan prematur. Gejala yang mungkin didapatkan dirasakan seperti sakit punggung, tekanan pada punggung, darah dan terdapatnya darah dan cairan bening yang keluar dari vagina, kram perut, dan kontraksi selama 10 menit sebelum kehamilan menginjak 37 minggu.

Hindari mengkonsumsi obat apapun selama kehamilan kecuali vitamin pra-kehamilan. Pada kondisi tertentu dokter akan merekomendasikan kamu obat yang aman untuk dikonsumsi selama kehamilan. Menghentikan pengobatan bukanlah langkah yang tepat, karena dapat memperburuk lupus dan mengakibatkan terjadinya komplikasi kesehatan pada bayi.

Diperlukanya pemilihan metode persalinan yang aman untuk Bunda dan bayi. Banyak Bunda yang dapat melahirkan bayinya dengan sehat dan aman melalui persalinan normal. Namun dalam kasus tertentu, seperti Bunda dan bayi dalam keadaan stres atau terjadi persalinan prematur, maka operasi caesar menjadi metode persalinan yang paling aman dan cepat.