Beranda Kehamilan Mengetahui Risiko Preeklamsia Sejak Awal Kehamilan

Mengetahui Risiko Preeklamsia Sejak Awal Kehamilan

Preeklamsia dapat mempengaruhi 5-8 persen terjadinya kematian ibu dan bayi. Mengetahui fakta tersebut, diperlukan penanganan secara serius dan secepatnya. Umumnya preeklamsia dapat berkembang di trimester ketiga, terutama setelah 37 minggu kehamilan atau juga pada awal 20 minggu.

Banyaknya faktor yang menyebabkan ibu hamil mungkin mendapatkan preeklampsia, diantaranya:

  • Memiliki riwayat preeklamsia atau riwayat keluarga penderita preeklamsia
  • Kehamilan pertama dengan pasangan baru
  • Interval yang terlalu panjang antara satu kehamilan dan selanjutnya
  • Mengalami hipertensi kronis atau tekanan darah tinggi
  • Memiliki masalah ginjal
  • Kegemukan
  • Memiliki riwayat transplantasi organ
  • Usia ibu dibawah 10 atau diatas 40 tahun
  • Menderita diabetes
  • Lupus atau penyakit autoimun lainya. 

Perkembangan preeklamsia terkadang tanpa memiliki gejala. Terjadinya tekanan darah yang tinggi secara perlahan atau secara tiba-tiba. Diperlukanya pemantauan tekanan darah pada ibu hamil merupakan bagian penting dalam perawatan pranatal. Tanda pertama terjadinya preeklamsia pada umumnya adalah peningkatan tekanan darah. Akan tetapi ada kemungkinan lain yang menjadi gejala terjadinya preeklampsia, yaitu:

  • Kelebihan protein dalam urine
  • Sakit kepala kronis
  • Terjadi sensitivitas terhadap cahaya, penglihatan kabur, dan kehilangan penglihatan sementara
  • Terasa nyeri pada perut bagian atas, pada posisi bagian bawah tulang rusuk dibu hail di sisi kanan
  • Muntah dan mual
  • Produksi urine menurun
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah
  • Gangguan fungsi hati
  • Sesak nafas, akibat cairan di paru-paru
  • Terjadinya peningkatan berat badan secara tiba-tiba dan pembengkakan, terutama pada bagian wajah dan tangan

Semakin parah preeklamsia yang dialami, dan semakin awal hal ini terjadi. Maka, semakin besar resikonya pada ibu dan bayi. Diperlukanya indkubasi atau terjadinya persalinan lebih awal dapat terjadi.

Kondisi komplikasi preeklamsia dapat meningkatkan resiko pada ibu dan janinnya, diantaranya:

Terhambatnya Pertumbuhan Janin

Preeklampsia dapat mempengaruhi arteri yang membawa darah ke plasenta. Saat plasenta tidak cukup dalam mendapatkan darah, maka kemungkinan bayi kekurangan pasokan darah dan oksigen serta nutrisi yang lebih sedikit. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pertumbuhan yang lambat, termasuk berat lahir yang rendah atau terjadinya kelahiran prematur.

Kelahiran Prematur

Bagi ibu yang menderita preeklamsia yang akut, memiliki kemungkinan besar melakukan persalinan lebih awal untuk menyelamatkan nyawa ibu dan anak. Kelahiran prematur dapat menyebabkan masalah pernapasan pada bayi dan masalah kesehatan lainya.

Abruptio Plasenta

Abrupsio plasenta adalah kondisi plasenta terpisah dari dinding bagian dalam rahim sebelum melahirkan. Terjadinya pendarahan hebat yang dapat mengancam nyawa ibu beserta bayi.

Sindrom HELLP

Sindrom ini terjadi akibat peningkatan enzim hati dan jumlah trombosit yang rendah akibat penghancuran sel darah merah, melalui kondisi ini kemungkinan ibu dan janin dalam bahaya.

Gejalan sindrom HELLP seperti mual, dan muntah, lalu sakit kepala serta nyeri perut kanan atas. Terjadinya sindrom HELLP pada seseorang dapat menimbulkan kerusakan pada sistem organ, dan terkadang sindrom ini dapat berkembang secara tiba-tiba. Sebul tekanan darah yang tinggi terdeteksi atau mungkin berkembang tanpa gejala.

Kerusakan organ lainnya

Kerusakan lain akibat preeklamsia, seperti kerusakan hati, ginjal, paru-paru, jantung, mata, serta dapat menyebabkan stroke atau cedera otak lainya. Terjadinya jumlah cedera pada organ lain tergantung tingkat keparahan preeklampsia.

Penyakit kardiovaskular

Terjadinya preeklampsia dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah di masa depan. Untuk meminimalisir terjadinya preeklamsia, cobalah untuk menjaga berat badan ideal setelah melahirkan, dengan mengkonsumsi berbagai jenis buah dan sayur, melakukan olahraga secara teratur, dan jangan merokok.