Menghadapi anak yang sulit makan memang sangat menguras waktu dan emosi Bunda, terlebih bahan makanan yang telah sulit-sulit Bunda siapkan ditumpahkan secara suka cita oleh si anak.?
Memasuki usia 1 sampai 5 tahun anak akan mengalami fase naik turun pada nafsu makannya. Namun dalam fase ini pula Bunda harus memastikan kecukupan atas kebutuhan gizinya.?
Madu Untuk Nafsu Makan
Salah satu cara untuk meningkatkan nafsu makan anak adalah pemberian madu untuk si kecil. Banyak kemasan madu yang dijual di pasaran dengan selogan mampu meningkatkan nafsu makan si kecil.?
Lalu, efektifkah madu untuk meningkatkan nafsu makan anak?
Komposisi Madu
Sebelum kita membahas mengenai efektivitas madu terhadap nafsu makan si kecil, sebaiknya Bunda mengetahui kandungan dalam madu itu sendiri.?
Kandungan utama dalam madu adalah karbohidrat, yang menyusun 95-97% beratnya. Jenis karbohidrat yang terkandung di dalamnya adalah sukrosa (sama dengan yang terdapat pada gula pasir). Selain itu, kandungan lain madu adalah:
- Protein.
- Asam amino.
- Mineral.
- Asam organik.
- Flavonoid.
- Polifenol.?
- Alkaloid.
- Glikosida.?
Atas kandungan-kandungan di dalamnya, madu dapat menjadi sumber energi karena mengandung karbohidrat dalam jumlah yang cukup banyak. Selain itu, madu memiliki flavonoid dan polifenol yang bisa berguna sebagai antioksidan.
Itu artinya, madu bermanfaat untuk menangkal radikal bebas. Fungsi antioksidan ini menyebabkan madu mulai diteliti sebagai zat penangkal kanker. Selain itu, bahan-bahan yang terdapat di dalam madu membuatnya diyakini memiliki efek anti kuman dan anti radang.
Banyak studi yang menemukan bahwa madu memiliki efek positif terhadap pengobatan luka, penyakit diabetes, kanker, asma, penyakit jantung, saraf, dan gangguan saluran cerna.
Efektifkah Madu Menambah Nafsu Makan Anak?
Penggunaan madu untuk meningkatkan nafsu makan anak bukanlah ide yang baru. Penggunaannya sudah lama dipraktikkan, tapi ada yang mengaku berhasil maupun tidak.
Sayangnya, penelitian yang mengaitkan madu dengan nafsu makan anak masih terbatas. Studi mengenai madu dan nafsu makan anak tidak ditemukan di perpustakaan jurnal kedokteran Pubmed. Tak heran, itu karena nafsu makan adalah suatu hal yang subjektif dan sulit diukur.
Namun, sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia oleh Harmiyati et al, memperoleh kesimpulan bahwa madu benar-benar efektif meningkatkan nafsu makan anak. Penelitian yang dipublikasi di Belitung Nursing Journal pada 2017 ini menguatkan informasi yang beredar selama ini terkait manfaat madu.
Namun, untuk dapat mengakui suatu zat berefek terhadap tubuh manusia diperlukan beberapa studi. Satu studi saja sayangnya belum cukup untuk meneguhkan klaim ini.
Apalagi karena jenis penelitian yang ada belum menggunakan uji klinis. Itu sebabnya, efektivitas madu untuk nafsu makan anak belum terbukti seutuhnya.
Mungkin ada diantara Bunda yang merasakan manfaat madu untuk meningkatkan nafsu makan anak. Sah-sah saja bila Bunda masih akan menggunakan madu untuk tujuan ini, karena Bunda yakin akan manfaatnya
Yang terpenting, ketahui hal-hal apa yang perlu Bunda waspadai sebelum memberikan madu pada buah hati Bunda. Salah satunya adalah terkait takaran yang sebaiknya dikonsumsi.
Takaran Minum Madu yang Sehat pada Anak
Hingga saat ini, belum ada penelitian yang menentukan seberapa besar takaran minum madu pada anak yang ideal. Meski demikian, Bunda sebaiknya tetap berhati-hati saat memberikan madu pada anak.
Salah satunya karena madu mengandung cukup banyak sukrosa. Kandungan ini bisa membuat anak mudah terkena gigi berlubang. Selain itu, terlalu banyak sukrosa tentunya juga berisiko menyebabkan anak mengalami kelebihan berat badan.
Bila Bunda ingin memberikan madu secara rutin pada anak, takaran seperti 1-2 sendok setiap harinya sudah cukup. Sesuai dengan usia anak, berilah dalam jumlah yang lebih sedikit pada anak yang masih kecil.
Selain itu, pastikan anak menyikat gigi dengan bersih setelah mengonsumsi madu. Kandungan gula yang ada didalam madu dapat menempel di gigi dan menginisiasi karies gigi (lubang pada gigi).
Jangan lupa, hanya berikan madu pada anak berusia di atas 1 tahun. Madu tidak boleh diberikan pada anak yang berusia di bawah 1 tahun, untuk menghindari risiko tertular penyakit botulisme.
Botulisme adalah jenis penyakit yang jarang, tapi berakibat fatal, yaitu kelumpuhan. Botulisme terjadi karena racun pada saraf yang dikeluarkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Gejala penyakitnya adalah konstipasi, tidak nafsu makan, dan kelemahan otot (misalnya tidak dapat mengangkat kepala). Spora bakteri ini sering ditemukan pada madu yang mentah.