Gangguan kehamilan bisa saja dialami oleh ibu hamil manapun, seperti terjadinya ketuban pecah dini (KPD). Kondisi ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan.
Salah satu masalah seperti ketuban pecah dini selalu menjadi hal yang menakutkan bagi wanita hamil, lantaran khawatir terjadi sesuatu dengan Si Janin. Nah, sebenarnya apa yang menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini?
Berikut hal pemicu terjadinya KPD ( Ketuban Pecah Dini) yang perlu sahabat Bunda waspadai, dianataranya :
- Riwayat Ketuban Pecah Dini
Jika Bunda pernah mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya, maka kehamilan yang selanjutnya bisa berisiko mengalami hal yang sama. Untuk menghindari ketuban pecah dini untuk kesekian kalinya, sebaiknya Bunda rutin berkonsultasi ke dokter kandungan dan meminta dokter untuk melakukan beberapa tes pemeriksaan kesehatan agar kantung ketuban tetap aman. Hal tersebut penting adanya, mengingat histori kondisi rahim Moms yang juga pernah mengalami ketuban pecah dini sebelumnya.
- Kelainan Leher Rahim
Ketuban pecah dini bisa terjadi karena adanya kelainan pada otot-otot leher atau leher rahim yang terlalu lemah atau lunak, sehingga tidak mampu menahan dorongan janin yang semakin besar.
Bunda baiknya saat memasuki kehamilan trimester pertama, berkonsultasi dengan dokter dan menanyakan perawatan medis apa yang harus dilakukan untuk menghindari ketuban pecah dini.
- Berkurangnya Kekuatan Membran
Ketuban pecah dini bisa juga disebabkan karena berkurangnya kekuatan membran ketuban yang diakibatkan karena infeksi pada vagina. Selain itu pecahnya air ketuban diakibatkan juga karena adanya infeksi pada rahim sehingga membuat selaput ketuban menjadi semakin tipis dan mudah pecah.
- Stress Selama Masa Kehamilan
Perubahan hormon Ibu hamil memang sering terjadi diantaranya emosional yang meningkat, rasa khawatir dan stres karena beberapa hal lain. Hal itu bisa berpengaruh pada kondisi janin dan kantung air ketuban di dalamnya. Nah, jika Bunda mengalami stres berat saat hamil, sebaiknya bisa mengendalikan keadaan psikologi demi kondisi janin di dalam kandungan.
Menghindari timbulnya kelainan pada kehamilan jauh lebih mudah dibandingkan melakukan pengobatan, oleh sebab itu Bunda dan Ayah sebaiknya saling bekerja sama dalam menjaga kesehatan selama kehamilan sampai 40 hari pasca persalinan (nifas)